Rabu, 21 Maret 2012

SuaraSimalungun Kamis 23 Maret 2012 (Edisi 500)


Dishut Diduga Tutup Mata Hutan Kecamatan Raya Terus Dirambah

* UPAS Raya Sesalkan Kinerja Dishut
Simalungun,SS
Hingga saat ini hutan di Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun masih terus dirambah, perambahan hutan dilakukan dengan ragam alasan dan diduga Dinas Kehutanan tutup mata dengan aksi perambahan hutan di Kecamatan Raya.  Demikian dikatakan Soppat Purba Ketua Usaha Penyelamatan Asset Simalungun (UPAS) Kecamatan Raya kepada SS awal pekan ini.
Soppat Purba mengatakan bahwa UPAS Raya telah melakukan investigasi ke seluruh hutan di Kecamatan Raya dan menyaksikan bahwa kerusakan hutan di Raya sudah pada ambang batas yang memprihatinkan.  UPAS Raya sudah terjun ke lapangan yaitu ke hutan di Silou Buttu, Tambun Marisi, dan Raya Huluan.   Kondisi hutan di ketiga lokasi tersebut saat ini sudah sangat memprihatinkan kata Soppat.
Soppat mengatakan masalah perambahan hutan di Raya UPAS Raya sudah berkoordinasi dengan DPP-UPAS  dan diharapkan agar DPP-UPAS juga melakukan aksi agar perambahan hutan di Raya tidak terus berlanjut yang bisa membahayakan keselamatan warga di daerah hilir.   Daerah hutan di raya adalah hulu sungai yang mengalir ke Tebing Tinggi dan Deli Serdang misalnya saja sungai ular jadi kalau sampai hutan di Simalungun mengalami kerusakan berdampak hingga ke Sergai dan Deli Serdang kata Soppat.
Soppat mengatakan Hutan di Kecamatan Raya saat ini dirambah/dihabisi oknum tak bertanggung jawab tanpa hambatan apapun seolah-olah pelakunya benar-benar kebal hukum. Ironisnya hutan yang dibabat itu berada dilahan yang ditumbuhi pohon sembarang keras itu sebelumnya berfungsi membantu kekuatan lahan agar terhindar dari longsor dan banjir.
Tim UPAS Raya yang langsung kelapangan menyaksikan aksi pembabatan yang tak memperhitungkan dampak lingkungan lokasi pembabatan juga ada yang berada dipinggiran jalan juga  adalah persis di  daerah aliran sungai (DAS).
Ketua UPAS Raya mengatakan bahwa secara geografis, Kecamatan u jauh dari jangkauan Polres Simalungun. Kalaupun Polres mungkin mengetahui ada perbuatan pidana seperti pembalakan hutan disana, pihak Polres terlalu enggan datang kesana oleh karena jarak tempuh dari Polres ke TKP yang cukup jauh, akibatnya perambahan bebas sebebasnya menggasak hutan tanpa ijin disana. Namun demikian pihak UPAS tidak akan membiarkan  Kecamatan Raya habis digunduli si pembalak.
UPAS tengah menyusun pengaduan kepada Kapolda dan Kapolri agar siapa saja pelaku dan aparat yang menjadi bekingnya diseret ke meja Pengadilan  utuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.  Pihak UPAS meyakini ada konpirasi tingkat atas dan pelakunya mulus bekerja di tingkat kecamatan. Namun semua itu akan terbukti di Pengadilan nantinya.
Menurut Soppat, perambahan hutan tidak hanya terjadi di Kecamatan Raya akan tetapi juga terjadi di Kecamatan lain di wilayah Simalungun. Akibat pembalakan liar ini, hampir semua jalan di kecamatan ini hancur total karena setiap harinya dilintasi truk besar yang melebihi tonase mengangkut kayu hutan dan kelapa sawit, rakyat semakin miskin, dan muspika disana kehilangan wibawa. Masih maraknya perambahan hutan diduga karena Dinas Kehutanan Simalungun tutup mata terhadap penebangan hutan dan diduga juga terjadi kong kalikong.  Plh Kadis Kehutanan Simalungun Ruslan Sitepu yang coba dikonfirmasi SS seputar masih adanya perambahan hutan di Kecamatan tidak berhasil. (tp)

Sampai Kapanpun Warga  Sidamanik Tolak Konversi 
Teh menjadi Sawit

Simalungun,SS
Sampai kapan pun masyarakat Sidamanik tetap konsisten akan menolak konversi tanaman teh menjadi sawit di kebun Sidamanik. Masyarakat Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun sampai kapanpun tetap menolak  kebijakan Direksi PTPN IV yang akan mengkonversi Teh menjadi Sawit. Konversi teh menjadi Sawit dikhawatirkan akan menimbulkan dampak lingkungan yang pada ujungnya akan menimbulkan kesengsaran rakyat saja. Selain itu  pabrik Teh yang ada di Sidamanik  juga merupakan warisan sejarah perkebunan nasional yang ada di Simalungun.Demikian dikatakan Marsudin Damanik Ketua Forum Pemerhati Lingkungan  Rabu (21/3).
Marsudin  menjelaskan pabrik teh di Sidamanik merupakan salah satu peninggalan sejarah  dibangun  tahun 1920  Pemerintah Kolonial Belanda. Berarti saat ini umur pabrik tersebut sudah 85 tahun. Menurut Undang Undang  Tentang Bangunan Cagar Budaya, bangunan seusia ini  seharusnya dilestarikan. Menurutnya, tahun 1972 Pangeran Bernhard dan Ratu Juliana dari Belanda  pernah berkunjung  ke perkebunan teh Sidamanik khusus mellihat  tanaman teh peninggalan  zaman Belanda. Jika tanaman  teh dinilai merugi lebih baik pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat saja kemudian seharusnya dicari akar permasalahan apa sebab terus merugi.
Damanik, menjelaskan jika lokasi tanaman teh  menjadi tanaman sawit dikhawatirkan di Sidamanik akan rawan banjir serta suhu  panas  yang mempengaruhi petani padi sawah yang ada.  Ditegaskannya,  jika konversi  diteruskan  berarti  PTPN IV  menciptakan bencana banjir di Kecamatan Sidamanik  yang mengancam  mata pencaharian masyarakat  khususnya  petani  karena akan terjadi perubahan  ekosistim.
Jika Direksi PTPN IV tetap memaksakan kehendak masyarakat maka itu  dianggap tidak menghiraukan aspirasi masyarakat Sidamanik. Direksi PTPN IV tidak hanya melihat aspek ekonomis semata masih banyak aspek lain yang harus diperhatikan sebelum mengambil kebijakan.
Dikatakan Marsudin Damanik saat ini kondisi di lapangan bahwa tanaman teh sudah mulai dibongkar dan informasi yang dihimpun dikatakan bahwa itu adalah replanting tanaman teh yang sudah tua.  Akan tetapi menjadi pertanyaan mengapa tanaman teh yang masih produktif juga ikut dibongkar kita khawatir pembongkaran tanaman teh ini ujung bisa untuk memuluskan konversi menjadi sawit.  Marsudin megharapkan agar elemen Simalungun yang konsisten menolak konversi teh menjadi sawit tidak hanya diam diharapkan datanglah memantau lapangan untuk memastikan konversi tidak jadi dilaksanakan.
Marsudin mengatakan warga Sidamanik akan senantiasa bersatu padu menolak konversi teh menjadi sawit di Kebun Sidamanik, penolakan dimaksudkan bukan untuk kepentingan kelompok saja akan tetapi untuk kepentingan seluruh masyarakat Sidamanik dan sekitarnya karena konversi dikhawatirkan akan berdampak lingkungan yang justru berujung menyengsarakan masyarakat semata kata Marsudin. (tp)

 Bual-Bual Pokkalan
MANRANGGI HORJA ADAT BANI SIMALUNGUN
Malas uhur, pajuppah use hita bani parbualan Simalungun aima  bani bual pokkalan on.Posdo uhur, bahasa na komit ope hita bani parjuangan marsimalungun on. Andoharma.
Sattorap on, ulaki  hita lobei mangugari pambotohta pasal adat simalungun on, gendo roh bueini hita namangarusi adat pakon budaya simalungun ase ulang soppat magou hita halani na dob magou adat pakon budaya simalungun.
”Ulang lobei namarnaloja hita massahapi adat simalungun, halani seng mungkin iarapkon hita halakan tarlobih simbalog an laho patorsahon adatta on” nini si Sudiman Saragih par Lubuk Pakam naroh khusus hu Siattar laho marbual adat Simalungun bani pokkalan ni SS.
”Ai mage” Nini si Petrus Serbelawan mambalosi. ”Apalagi isahapi hita pasal ranggini horja adat, sosok tumang ma ai, halani buei ope hita on na sihap mambahen horja adat baik bani malasni uhur pakon pusokni ni uhur, hape lape adong songon mantap botul pasal ranggini horja ai. Ase dearma ukkari hita lobei” nini Petrus use irik manoldu sigaretni.
”Ok. Taringat hubani ranggini horja, maningon mulak do lobei hita hubani sistem kekerabatanni halak Simalungun. Sanina pangalopan riah, boru pangalopan gogoh janah tondong pangalopan podah.
Jadi anggo sihol ma hita mangadongkon horja adat, naparlobei sihorjahonon aima na mangalop riah bani sanina. Sanina sainang sa amang, sanina na marsanina bapa, sasina na marsanina opung pakon na legan, bila penting dihut pakon sanina pariban. Dob ai laho ma diri hubani boru diri na iwakili anak boru jabu. Hubani anak boru jabu aido na padas sura-sura diri termasuk rencana adat nalaho sihorja honon. Terakhir laho ma diri mangindo podah hubani todong. Tarlobih ma ai hubani tondong pamupus diri. Sonai do anggo na hubotoh” nini Jaserman Sondi marpodah.
“Ya, domma lepak tongon au on” nini si Posma soppong. “Anggo sadokah on, parlobei hurumahni tulangni dakdanak on do au marsuhutan asal adong horja ijabukku. Halani maningon sonai do hu horjahon ase ulang maseda uhurni inangni dakdanak on” nini Posma polos
. “Lepak ma tongon ham Lawei” nini si Juhut hun lopah hundulan. ”Ham in ma goranni turis atap turut istri. Ai anggo tulang ni dakdanak do sedo daroh diri  ai. Tondong na baru do ai. Sedo ai pamupus diri. Halani maningon pamupus diri do parlobei na juppahan, halani ia do na bertanggung jawab hubatta. Sedo botouni parrumah. Tapi sonaima, anggo ra do diri marubah domma dear ai. Ulang be pesak janah marsalahan horjatta tarlobih petinggini Simaungun on.” Nini si Juhut Purba perasaan ahli adat Simalnguungun.
 “Dob ai aha ma use sihorjahonon, “ nini si Purba Tojai songon na lang sabar mandihuti parsahapan.
 “Anggo manurut pandappotku, horja na mangihut aima mambahen riah tongah jabu. Ijaima hadir Sanina, Tondong pakon boru. Anggo sondahan on, ijaima homa iottang ase roh hasoman sahuta termasuk pengurusni Partuha Maujana Simalungun. Ibani riah tongah jabu on, maningon tuntas ma homa membahas tatang aturni horja, pardalanni gori, pardalanni demban, pardalanni hiou pakon na legan. Ijon ma homa botohonni simbuei isema anak boru sanina pakon  anak boru jabu ase ulang adong na lepas tanggung jawab bani horja ai.” Nini si Marsudin Damanik gelar Mardam mambere pandpot.
 “Sosok ma ai tongon” marsahap use si Bertus  na hundul ilambungni Ayeb Saragih. “Manurut pandapotkupe tarsonai dassa nulat-nulatni horjani Simalungun on. Hassa, anggo bani matani horja maningon dihutma homa namin odoran na dua nari aima tondongni tondong pakon anak boru mintori. Aido ase adong doding tolu sahundulan lima saodoran. Anggo domma ijin sitolu sahundulan songon sanina, tondong, boru itambah lima saodoran aima tondongni tondong pakon anak boru mintori, lengkapma haganupan kekerabatanni hita Simalungun. Aipe anggo songon na hurang pas pendpatku ai, mulak hubakku ma hape” nini si Bertus ibagas toruhni uhur.
Hita haganupan halak Simalungun on, nini namatua makkatahon, marulu do bah, marbona do sakkalan janah martappuk do demban. Ganup do adong nulatni horja adat. Ulang hita jappak-jappak laho makkorjahon horja adat. Maningon dear do iranggi hita horjatta. Nini halakan, maningon adong do proposalni horja ase haganupan horja ai sistimatis, ekonomis janah hemat panorang. Horja na lang dong persiapan, biasani pabadorhon. Halani ai sittong-sitong ma bahen hita horja adatta. Halani anggo lepak, sedo pitah hasuhuton na maila. Haganupan halak Simalungun pasti maila anggo seorma horja adatta, tarlobih ilobeini buei do halak na lang halak Simalungun. Sonaima. (oppungni jeriko)   


Komjen FKKMASI Paten Purba Smd :
Ganti Nama Objek Wisata Karang Anyar ke Aslinya

Simalungun,SS
Pemkab Simalungun diharapkan berperan untuk melestarikan peninggalan sejarah Simalungun, karena pelestarian peninggalan sejarah Simalungun juga adalah tanggung jawab Pemkab.  Nama obyek wisata Karang Anyar selama ini adalah keliru karena tidak mencerminkan budaya Simalungun. Demikian dikatakan Paten Purba Smd Ketua Forum Keberanian Kebijakan Masyarakat Asli Simalungun Indonesia (FKKMASI) kepada SS Rabu (21/3).
Paten Purba mengatakan lokasi obyek wisata Karang Anyar tersebut aslinya adalah Bah Pamujian.  Bah Pamujian artinya di mata air Karang Anyar tersebut dahulunya adalah tempat Pamujian yang konon katanya milik boru Damanik. Jadi mata air yang ada di Karang Anyar tersebut aslinya adalah tempat yang suci dan harus disucikan sebagai lokasi Pamujian.  Bah bahasa Simalungun artinya air, Bah Pamujian artinya mata air tempat untuk menyembah sesuai kepercayaan masyarakat Simalungun ketika itu.
Dalam perjalanan selanjutnya lokasi Bah Pamujian menjadi obyek wisata dan nama Karang Anyar itu diberikan dengan setengah mencontoh obyek wisata Anyer yang ada di Pulau Jawa, apalagi lokasi  tersebut banyak dihuni warga suku Jawa, sehingga menjadi kebiasaan lokasi wisata tersebut dikatakan Karang Anyar.   Karang Anyar juga adalah suatu daerah di Jawa Tengah.
Dengan demikian nama Karang Anyar tidak memilki latar belakang yang kuat dan tidak mencerminkan jati diri Simalungun maka sudah seharunya Pemkab Simalungun mengembalikan jati diri Karang Anyar tersebut menjadi “Bah Pamujian” sesuai dengan filosofinya ujar Paten. Penamaan lokasi suatu tempat adalah wewenang Pemkab Simalungun diharapkan Pemkab Simalungun segera mengembalikan jati diri Karang Anyar kata Paten dengan nada keras.
Dijelaskan Paten Purba sesuai budaya Simalungun setiap mata air adalah tempat yang suci artinya harus dijaga kelestariannya. Hal tersebut adalah sebuah kearifan lokal etnis Simalungun jadi setiap mata air adalah tempat yang suci yang harus dijaga agar tidak tercemari oleh polusi lingkungan.  Kearifan lokal tersebut sangat relevan dengan situasi saat ini. Kita sudah merasakan  dampak negatif dari kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini jadi sangat diperlukan kearifan lokal katanya.
Paten mengatakan saat ini lokasi “Bah Pamujian” Gunung Maligas sudah tercemari dengan adanya tempat yang diduga lokasi maksiat di Karang Anyar.  Kita melihat tenda biru yang banyak sekali di lokasi wisata Karang Anyar dan diduga tidak memilki izin,.  Kita harapkan Pemkab Simalungun mengembalikan jati diri lokasi Karang Anyar dengan mengganti namanya menjadi “Bah Pamujian” yang konon katanya adalah tempat boru Damanik. (tp)      

INFO SINGKAT DAERAH

Pematangsiantar, SS
Jalan Negara di kota Pematangsiantar antara Rambung Merah menuju Sinaksak di beberapa tempat terdapat lubang menganga dan membahayakan, perlu mendapat perbaikan sesegera mungkin dari Kantor Balai Wilayah I Medan Dirjen Bina Marga Kementerian PU, kata M. Johan dari LSM PPL kalau itu dibiarkan sama dengan menanti manusia untuk jadi korban, ini tergantung niat baik para PNS yang bertugas di jajaran bawah untuk mengajukan ke pihak atasan. Padahal kata Johan cukup 5 down truk untuk 5 km, jalan sudah baik dan asal cara pengerjaannya baik pula, demikian ujar Johan (21/3) kepada wartawan koran ini. (LM)

Parapat, SS
PT. Aqua Farm adalah perusahaan Swiss yang ada di Indonesia persoalan-persoalan hukum seperti pelanggaran terhadap kondisi air Danau Toba sulit terselesaikan walau ditemukan pencemaran dan sepertinya kebal hukum, hingga masyarakat yang mandi atau yang mempergunakan air Danau Toba harus menderita sakit yaitu perih ke mata. Itu sudah nasib anak negeri karena petugas negara pada bidang mutu air dari Bappedalda Simalungun tak mampu mengawasi hanya mengira untung perusahaan seperti ini. Katanya tiap hari 50 truk mengangkut ikan dari Ajibata ke Pabrik di Sergei. Harga 1 truk kalau sudah dibersihkan siap jual (tulang dibuang) 1 truk ± Rp. 500 juta, dan peredarannya dari Swiss ke seluruh dunia kemudian tahan selama 6 bulan. Hal ini hebat kata Natsir Damanik (50) penduduk Sipolha kepada wartawan (21/3).  (LM)


Dolok Merangir, SS
Sebagai orang Batak saya malu, kata H. Manurung (45) mengaku karyawan suatu perusahaan di Dolok Merangir, keterangan keluarga yang datang dari Jambi Silaban. Besan ini br. Sinaga sudah finalty sanksi dari suami sudah pakai perjanjian terakhir dari seorang berinisial A, seorang asisten bayar Rp.5 juta toh juga tak kunjung jera, akhirnya Silaban ajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Jl. Asahan Km. 2 Kabupaten Simalungun (15/3). (Alpijor)

Jalan Asahan,
Kantor BPS Kabupaten Simalungun terletak di Jl. Asahan Rambung Merah merupakan kantor yang mengurusi data-data perwakilan pusat BPS  di daerah melakukan pelayanan terhadap data-data tentang penduduk, produksi dan potensi-potensi apa saja yang ada di Kabupaten Simalungun. Ketika wartawan berbincang masalah orang miskin Drs. Asi Matanari (15/03) tergantung kejujuran pemberi informasi, persyaratan sudah ditetapkan pemerintah untuk dilaksanakan. Kantor yang selalu bersih dan rapi membuat para pegawai betah bekerja guna mendorong disiplin kerja itu dimiliki kantor BPS Kabupaten Simalungun. (KS)

Dolok Merangir, SS
Kantor PT. Bridgestone dari Dolok Merangir dikunjungi untuk bertamu ke Manajer Humas melalui Satpam Hendra Damanik, tujuan mempertanyakan masalah tanah desa TINOKKAH ± 400 ha, konservasi alam khusus DAS minyak solar yang digunakan SIOPU bersubsidi atau tidak, masalah penerimaan karet, retribusi izin  mendirikan bangunan, retribusi galian C, dan lain-lain yang berkaitan dengan peraturan pemerintah dan salah satu dugaan adalah diduga SIOPU pengusaha memonopoli bisnis, sepertinya tak ada pemerataan, benarkah itu??? Saat itu harga karet (15/3) SLAB I Rp. 32.400/kg, SLAB 2 Rp. 32.300/kg. (KS)

Tapian Dolog,SS
PT. Sofindo di Sinaksak dulu terkenal pengusaha import CHOPSTIKS kini sudah produksi kertas kata Jhoni selaku pemilik (15/03) kepada wartawan koran ini. Dikatakan kini karton kertas surat kabar dll, diterima disini untuk diolah, silahkan masuk kalau ada kertas, harga diatur lebih lanjut sepanjang kertasnya sesuai bahan produksi didaerah ini. (KS).

Silinduk,SS
Saat wartawan berkunjung ke kantor Pangulu Nagori Silinduk, Samiaji tidak berada di kantor atau lazim disebut bolos. Sementara yang hadir adalah Sekretaris sedang mengerjai Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) kayu. Terlihat surat berkepala dinas kehutanan Simalungun lalu ditandatangani Kepala Nagori Silinduk ke PT. CRN di Kecamatan Tapian Dolok yang dibutuhkan wartawan, sudah berapa banyak retribusi ke Pemkab Simalungun. Hal ini tidak terjawab karena Pangulu Bolos. (KS)

Silinduk,SS
SD Negeri 094128 Silinduk tetap bersih, disiplin dan guru-guru bersemangat bekerja. Bapak Silaban yang saat itu melakukan pengawasan proses ujian Mid semester melayani semua pertanyaan wartawan dengan baik. Kasek ini jarang bolos. 10 kali wartawan berkunjung ke sekolah ini, 10 kali Bapak Silaban selalu ada ditempat. Benar-benar guru yang siap bekerja dan mengawasi Guru untuk bekerja sesuai roster dan silabus yang ada ditetapkan negara. (KS)

Silinduk,SS
Kasek SD Negeri 091595 di Silinduk Ratnawaty jarang masuk ke sekolah alias bolos. 3 kali dikunjungi wartawan 3 kali pula tidak ada. Menurut anggota guru di sana bahwa beliau sering keluar untuk dinas, sementara guru sakit seperti HARI SAID SAKIT-SAKITAN yang menjadi pertanyaan bagaimana menjadi sekolah bermutu kalau kasek bolos perlu mendapat pengawasan dari UPTD kecamatan Dolok Batu Nanggar. (Tim)


Silinduk,SS
Sebagai PNS Bapak Nababan memiliki pengolahan pupuk CAP TRIGO DERMACAP bekerja setiap hari 12 orang, pekerja yang ditanya soal harga dan lain-lain tidak tahu, nanti sore beliau datang kata pekerja kepada wartawan (16/3). Pemasaran ya ke desa-desa di kabupaten Simalungun dan terlihat tumpukan kotoran lembu di lokasi di Silinduk. (SS)


Jalan H Ulakma,SS
Dimana-mana banyak jalan yang rusak sehingga membuat masyarakat gerah, geram dan jengkel tidak menentu, karena baru saja jalan selesai diperbaiki belum ada setahun sudah hancur dan juga berlobang di sana sini. Seperti yang terjadi di Bunga Zaitun Rambung Merah sudah mulai hancur dan tidak menentu. Tim wartawan turun ke lokasi melihat dan memang itulah kenyataannya. Entah apa campurannya dan berapa ketebalan hotmix yang dibuat kita tidak tahu, tetapi kenyataan jalan yang baru diperbaiki sudah tidak beres, kata Hasan (56) penduduk setempat (15/3). (LM)

Rambung Merah,SS
Tempat pembuangan sampah yang ada di Rambung Merah pas dekat jembatan membuat para pengguna jalan merasa tidak nyaman akibat sampah yang menyengat baunya dan juga kadang-kadang berserakan. Masukan kepada petugas kebersihan agar maunya sampah tersebut cepat-cepat diangkut sehingga sampah tadi jangan sampai menumpuk dan berserakan yang menimbulkan kesemrautan yang tidak sedap dipandang mata, terlebih-lebih pas di tempat pembuangan sampah tadi jalan aspal sudah pada berlubang parah, diharapkan Pemkab Simalungun membuat pemeliharaan jalan dengan cara menambal agar tidak semakin banyak masyarakat yang menggunakan jalan tersebut pada menggerutuk/ ngomel. (Sita)


Batu VI,SS
Dari simpang jalan nasional (Asahan) menuju Batu VI  sampai ke Jl. Akasia Raya hampir setengah dari badan jalan pada berlubang-lubang menganga terlebih-lebih jalan Mahoni Raya menuju ke SLTA Negeri 1 Kecamatan Siantar dan SMP Negeri 1 Kec. Siantar, jalan Makadame Raya lebih parah lagi. Seharusnya jalan tersebut maunya diperbaiki agar transportasi menuju ke sana lancar. (LM)


Tanah Jawa,SS
Jalan Simpang Sitampulak menuju Marihat Tongguran kira-kira ± 6 km rusak berat perlu mendapat perhatian Pemkab Simalungun  yang sangat dibutuhkan cepat dan tepat, kata B. Tambunan (59) sebagai tokoh masyarakat Tanah Jawa oleh karenanya tim gerak cepat dibutuhkan dari Dinas Bina Marga Kabupaten Simalungun untuk segera memperbaiki jalan tersebut agar pengguna jalan bisa lancar lewat dan masyarakat senang. (LM)


Simarimbun,SS
Jalan yang berlobang-lobang mulai dari Simpang Dua sampai ke Simpang Marimbun sangat parah membuat pengguna jalan harus hati-hati membawa kendaraan masing-masing, tetapi pada hari ini (21/3) sudah mulai ada pekerja yaitu pemeliharaan dengan cara menambal tepatnya di Simpang Simarimbun. (Alpijor)




Pembagian E-KTP ke Masyarakat Dolok Panribuan Lancar


Tiga Dolok, SS
Pembagian e-ktp di kecamatan Dolok Panribuan berjalan lancar (21/03) langsung dipimpim James Siahaan, S.STP selaku Camat Dolok Panribuan dari 14 Nagori terlihat hadir semua penuh dengan keteraturan dan sesuai aturan yang ditetapkan, demikian pantauan di lokasi kantor bersama tim wartawan Suara Simalungun. Urusan pembagian e-KTP oleh Kasi Pemerintahan Syarifuddin Napitupulu melakukan pelayanan ke penduduk nagori Ujung Bondar Maruli Siahaan, NIK.1208130101600002. Kelahiran tanggal 01-01-1960 fotonya cukup jelas dan KTP terbuat dari kertas mutu terbaik. Hadir semua Pangulu Nagori lengkap pakaian dinas dan taat kepada aturan yang ditetapkan negara.
Bahwa E-KTP pada bulan September 2011 baru tanggal 20 Maret 2012 sebahagian selesai dikerjakan pada saat dibuktikan nomor NIK di daerah yang lain terbukti data-data tersebut bisa tampil di seluruh Indonesia, berarti apa program negara tentang E-KTP terbukti positif. Demikian perbincangan wartawan dengan camat Dolok Panribuan James Siahaan, S.STP. (KS/LM)




13 – 14 April Kunker Wapres di Simalungun :
 Tim Advance Wapres Lakukan Survei Lokasi-Lokasi Kunker

Simalungun,SS
Dalam rangka kunjungan kerja Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), yang direncanakan pada tanggal 13-14 April 2012 di kabupaten Simalungun, tim pendahulu (Advance) Wapres melakukan survei lokasi-lokasi yang akan menjadi sasaran kunker Wapres Kabupaten Simalungun selama dua hari 19-20 Maret 2012.
Kedangan tim Advance Wapres tersebut sebanyak 8 orang yaitu M Luthfi Mutty, Togar Arifin Silaban, Bardiansyah, Sapto Raharjo WS, Letkol Baroyo, Letkol Sumarno, James Ricky dan Sugiwan. Mereka antara lain terdiri dari Staf Khusus Wapres, Security dan keprotokolan.
Di Kabupaten Simalungun Tim Advance Wapres disambut langsung oleh Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM,Uspida Plus, Plh Sekda Ir Topot Saragih, Staf Ahli Bupati Simalungun, para Asisten dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Senin malam, 19/03/2012 di Simalungun Hotel City Pamatang Raya dan selanjutnya dijamu makan malam di rumah di Balai Pertemuan Griya Hapoltakan.
Usai santap malam,  staf khusus Wapres RI M Luthfi Mutty  menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan tim pendahulu Wapres  meliputi pengaturan subtansi, merancang acara dan security. Dia menyampaikan bahwa, dijadwalkan rencana kunker Wapres RI Budiono bersama istri akan melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Utara tanggal 13-14 April 2012 mendatang. Obyek yang dikunjungi adalah melihat perkembangan pembangunan Bandara Kuala Namu dan ke Kabupaten Simalungun dan menginap 1 malam di Simalungun City Hotel Pamatang Raya.
Dikatakan, kedatangan Wapres bersama istri ke Kabupaten Simalungun menggunakan 3 unit Heli dan obyek yang menjadi sasaran kunjungan Wapres antara lain pendidikan. Dibidang bidang pendidikan ini Wapres akan melakukan dialog dengan perwakilan siswa SD,SMP dan SMA, ramah tama dengan SKPD, meninjau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), melakukan dialog dengan penerima dan calon penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR), revitalisasi KB, dialog dengan petugas kesehatan lapangan, meninjau puskesmas rawat inap.
Selanjutnya Staf khusus Wapres tersebut, dihadapan para pejabat dijajaran Pemkab Simalungun termasuk Camat dan Ka.Puskesmas, menjelaskan bahwa kedatangan Wapres juga  akan menyerap isu aktual seperti kenaikan BBM, Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BSLM) terkait dengan kenaikan BB yang direncanakan akan diberikan bagi masyarakat miskin yang terkena dampak secara langsung terkait dengan kenaikan BBM selama 9 bulan, melihat langusung kondisi infrastruktur, capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), capaian MGDs dan isu terkait dengan lahan yang berdampak luas kepada masyarakat.
 Sebelumnya meninggalkan Kabupaten Simalungun, (20/03/2012) tim advance didampingi Bupati Simalungun, Uspida Plus, dan beberapa instansi tekhnis terkait serta staf ahli Bupati, meninjau beberapa recana lokasi kegiatan dalam rangka kunker Wapres bersama istri serta yang direncanakan didampingin beberapa menteri kabinet Indonesia bersatu jilid II seperti menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri PU, Menteri BUMN dan kepala BKKBN pusat. Lokasi yang ditinjau yakni kampus SMA Plus PMS Pamatang Raya, Balai Pertemuan di lapangan Pdt J Wismar Saragih, Puskemas Tiga Runggu, PNPM di Hinalang, Bandara Perintis dan Mesjid Ilham Sigundaba.
Usai melakukan peninjauan dibeberapa lokasi rencana kegiatan, selanjutnya tim menuju Medan untuk melakukan pertemuan dengan pemerintah provinsi sumatera utara. Dan dalam mempersiapkan dalam kunjungan Wapres di Kabupaten Simalungun, Bupati bersama staf dijajarannya melakukan rapat koordinasi dalam rangka mempersiapkan menyusun rencana kerja yang akan dilaksanakan, terutama pembenahan lokasi-lokasi kegiatan kunker wapres. (tp)

Pedagang Pajak Bunga Berdelegasi ke DPRD T.Tinggi

Tebingtinggi, SS
Tiga perwakilan pedagang Pajak Bunga alias Pasar Inpres Jalan Haryono MT, Selasa (20/3), mengadu ke DPRD Kota Tebingtinggi. Pengaduan itu, terkait belum terlaksananya pembangunan jembatan Pattimura di atas sei Bahilang. Akibat keterlambatan itu, ratusan pedagang mengaku mengalami kerugian besar.

Ketiga utusan pedagang, yakni Ketua Pedagang Pakaian Pusat Pasar Kain (P4K) Pajak Bunga Syahrizal bersama pengurus Harizul Nasution dan penasehat Bagindo Arwin. Mereka diterima sejumlah anggota Komisi II DPRD, yakni Wakil Ketua Ir.Alensudin Purba, anggota Mahyan Z Effendi, Wakidi dan H. Hasnan Lubis.
Wakil pedagang itu, menyampaikan keluhan mereka, karena tidak adanya kepastian kapan dimulai pembangunan kembali jembatan Pattimura. Menurut Bagindo Arwin, semakin lama jembatan penghubung itu dibangun, kerugian pedagang Pajak Bunga akan semakin besar. “Saat ini omset pendapatan kami menurun hingga 70 persen dari normalnya,” ungkap Bagindo Arwin.

Perwakilan pedagang itu, meminta kepada anggota DPRD, sebelum jembatan dibangun harus dibuat jembatan sementara agar masyarakat bisa berlalu lalang. “Tolong usulkan ke Pemko supaya dibua dulu jembatan sementara,” harap Syahrizal.

Mereka juga mengeluhkan tidak adanya penataan akses Jalan Pattimura yang menghadap Pajak Bunga yang saat ini jadi arena parkir liar. “Kondisnya semrawut, kami menerima akibatnya. Begitu juga dengan Jalan Haryono MT,” keluh Harizul Nasution.

Menurut dia, semestinya dalam kondisi rawan seperti saat ini, Pemko Tebingtinggi bisa melakukan pengaturan di Jalan Haryono MT, agar arus perekonomian jadi lancar. “Sekarang ini, masyarakat malas masuk ke sana, karena semrawut dan jorok,” keluh Harizul.

Mereka juga mendengar adanya rumor soal rehabilitasi Pajak Bunga jadi pasar modern. Pengurus P4K Pajak Bunga itu, meminta, jika nantinya Pemko Tebingtinggi jadi melaksanakan rehab Pajak Bunga, pedagang harus disertakan dalam merencanakan pembangunan. “Jangan nantinya nasib Pajak Bunga seperti nasib Pasar Gambir,” tegas Bagindo Arwin.

Komisi II DPRD, dalam tanggapannya menerima pengaduan pengurus P4K Pajak Bunga dan akan menyampaikannya kepada Pemko Tebingtinggi. “Harapan mereka akan kita tampung dan sampaikan kepada Wali Kota,” ujar Mahyan Z Effendi.(tt02)
                                                                         


Nostalgia Himapsi dari Medan Lalu Berkembang
oleh
Djaja Surapati Saragih SH*
Awal terbentuknya Himpunan Mahasiswa Dan Pemuda Simalungun disingkat HIMAPSI lingkupnya hanya di Medan.Hal ini jelas diketahui dari Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) nya. Pusatnya di Medan dan tidak memiliki Cabang maupun Komisariat dan Ranting. Wadah ini dimaksudkan, pertama agar para mahasiswa dan pemuda Simalungun saling mengenal dan jangan sampai sama-sama mahasiswa dan pemuda Simalungun karena tidak saling kenal lalu menggunakan bahasa (daerah) lain dalam berkomunikasi.
Sejalan dengan itu juga dengan saling kenal diantara mereka siapa tahu ada yang saling jatuh-cinta dan berlanjut dengan perkawinan, mengapa tidak. Kedua manfaatnya untuk membantu para lulusan SMA/sederajat yang ingin melanjutkan perkuliahan di Medan dapat diberikan pengenalan/bimbingan masuk Perguruan Tinggi. Dengan seperti itu diharapkan para lulusan SMA/sederajat dari/orang Simalungun semakin banyak jumlahnya masuk Perguruan Tinggi lalu jumlah sarjana (S 1) dari/orang Simalungunpun semakin besar jumlahnya. Maklum pada era itu tahun 70an sarjana (S 1) masih harum, artinya pada era itu apresiasi dan ekspektasi masyarakat terhadap S 1 masih sangat tinggi dibanding sekarang. Mencantumkan gelar kesarjanaan pun menjadi kebanggaan tersendiri apalagi bermenantukan sarjana.Itu dulu.
Dalam perjalanannya HIMAPSI yang lingkupnya masih terbatas di Kota Medan, menunjukkan nafas kehidupannya melalui kegiatan Penepung-tawaran lulusan PT (Sarjana). Kegiatan ini sering dan hampir rutin dilakukan. Beriringan dengan kegiatan itu dilakukan pula malam pagelaran budaya Simalungun, tor-tor Simalungun dan nyanyi/lagu Simalungun diselingi lawak Simalungun yang dikenal dengan “bual pokkalan”. Dulu namanya Jl.Serdang di Medan, disana ada gedung Bina Budaya, gedung itu masih “okelah” untuk penyelenggaraan event-event seperti itu, dan gedung itu pulalah yang kerap digunakan HIMAPSI. Antusias masyarakat Simalungun terhadap event tersebut tergolong tinggi, ini tampak dari kehadiran penonton. Boleh dikata gedung itu selalu penuh. Mungkin mereka rindu disapa dan dihibur oleh budaya nya.
Namun lama-kelamaan terjadi penurunan kegiatan. Muncullah aktifis baru, yang tentu telah mengikuti perjalanan HIMAPSI baik secara aktip maupun pasip, yang menginginkan derap-langkah HIMAPSI semakin nyata.Dibentuklah Panitia Musyawarah Besar HIMAPSI, yang bertugas melakukan periodesasi kepengurusan dan penetapan Garis-garis Besar Perjuangan/Rencana Kerja  HIMAPSI.Allerman Purba menjadi Ketua Panitia dan saya menjadi Sekretaris, dilengkapi dengan pengrus linnya seperti seksi-seksi. Namun dalam rapat rapat kepanitiaan muncul gagasan segar yang menginginkan pengembangan HIMAPSI. Implikasinya adalah perubahan AD dan ART. Gayungpun bersambut, saat itu lahir pula UU keormasan, yang mewajibkan Pancasila dan UUD 1945 menjadi azas semua organisasi.Jadinya perubahan AD dan ART, merupakan hal yang tidak bisa ditawar, mengingat pada AD dan ART lama, azas Pancasila itu belum tercantum.
Perobahan AD dan ART hampir menyeluruh kecuali Nama ,tempat kedudukan dan beberapa pasal lainnya. Dan yang mendasar serta yang penting dalam perobahan itu, pertama adalah azas dimasukkannya Pancasila dalam azas dan UUD 1945 dalam landasannya. Kedua tujuan. Beberapa tujuan organisasi lalu dikiristalisasikan menjadi tiga, yang dikenal kemudian dengan sebutan Tri Tugas HIMAPSI yaitu meningkatkan ilmu pengetahuan para anggotanya, melestarikan budaya Simalungun sebagai bagian dari budaya Indonesia dan meningkatkan hubungan sosial antara anggota. Ketiga Kepengurusan. Ada Pengurus Pusat yang terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Majelis Permusyawarahan Anggota (MPA) dan Badan Pembina Pusat (BPP).Pengurus Cabang di daerah Tk.II yaitu DPC dan Pengurus Komisariat yakni DPK di Fakultas/Universitas bagi mahasiswa, dan di Kecamatan bagi pemuda non mahasiswa. Pengurus Komisariat Fakultas dan Kecamatan setara kedudukannya. Dengan struktur organisasi seperi inilah organisasi bertumbuh. Lahirlah DPK Fakultas Hukum USU, DPK IKIP Medan dan lainnya.Terbentuklah DPC Kota Medan, Kab Simalungun malah Jakarta.Masa kepengurusan dipangkas dari 5 tahun menjadi 3 tahun. Perubahan ini dilakukan untuk mengantisipasi melemahnya kepengurusan di tahun ke 4 dan ke 5, karena personil pengurusnya sebagian sudah tammat atau pindah tanpa pemberitahuan.
Perdebatan dalam rapat-rapat penyusunan perubahan AD dan ART ini sering terjadi. Banyak wajah baru tapi “stock lama” hadir dalam pembahasan. Saya, Allerman Purba, Hotman Saragih, Januarison Saragih, Eddy P Sidadolog, Alisman Saragih, Rahmad Purba, Linda Girsang Fulmandasa Sinaga dan teman-temannya dari IKIP juga sering hadir, begitu juga teman-teman dari Fakultas Pertanian, Teknik seprti Darman Saragih dan lainnya serta Fakultas lain maupun Universitas lain seperti Darma Agung. Hanya saja beberapa diantara mereka terkadang datang kadang tidak. Tapi semua bisa disimpulkan menjadi konsep yang siap disajikan pada Musyawarah Besar (MUBES) I yang dilangsungkan di gedung GMKI Jl.Iskandar Muda Medan. Rupanya pembahasan dan perdebatan dalam rapat-rapat penyusunan AD/ART dan Garis-Garis Besar Program Kerja tidaklah sia-sia, karena dalam Mubes akhirnya konsep itu dengan mulus diterima oleh peserta Mubes.  Pemilihan Pengurus juga berjalan mulus. Allerman Purba menjadi Ketua Umum, saya terpilih menjadi Ketua II. Dalam periode ini rutin diawal tahun ajaran baru dilakukan Bimbingan Test HIMAPSI bagi para lulusan SMA sederajat untuk masuk PT. Hasilnya tidak mengecewakan, banyak diantaranya yang diterima di PT. Diakhir periode ini dimulai babak baru dalam bidang budaya dengan mengadakan Lomba Cipta Lagu Simalungun (LCLS) I. Dengan kegiatan ini diharapkan akan semakin banyak perbendaharaan lagu-lagu Simalungun, mengingat pertumbuhan lagu-lagu baru Simalungun tidak memadai dan tidak sebanding dengan pertumbuhan lagu-lagu daerah lainnya. Muncul banyak lagu dan ada 12 lagu pemenang LCLS I, dan lagu itu  sempat di perbanyak  dalam bentuk kaset. Disini peran sdr Januarison Saragih, harus diacungi jempol karena ia mampu menerjemahkan kemauan Panitia dengan menggandeng sponsor dan penyanyinya. Konsep Panitia  sebagai pemilik hak, adalah yang penting lagu itu dapat diperbanyak walaupun Panitia belum mendapatkan semacam kontribusi/royalty dari penjualan/penggandaan lagu dalam bentuk kaset. Dan itu terwujud.
Tiga tahun kemudian masa kepengurusan berlalu, kemudian diadakanlah Mubes II HIMAPSI di Parapat. Melalui Mubes inilah saya terpilih sebagai Ketua Umum. Pada masa ini Bimbingan Test masih dilakukan tetapi sudah mulai menurun, mengingat sudah mulai kalah bersaing dengan Bimbingan Test yang professional.Lomba Cipta lagu Simalungun II digelar lagi.Kwalitas lagupun sudah semakin membaik. Peran sdr Darmawan Purba pun semakin nyata dalam LCLS. Saudara ini beserta dewan juru lainnya bertindak   menyeleksi lagu-lagu yang masuk yang jumlahnya kurang-lebih 50an untuk disaring menjadi 10 atau 12 lagu terbaik. Pada periode ini pula HIMAPSI mulai turut dalam penghijauan bersama dengan Pemda Simalungun. Selain itu juga peran orang-orang HIMAPSI melalui Fulmandasa dan Januarison dalam mengelola Stand/Paviliun Kab Simalungun di Medan Fair di mulai.Lalu menjadi langganan. Malah di Stand/panggung terbuka Medan Fair itu HIMAPSI menggelar tor-tor/ budaya Simalungun. Kantor HIMAPSI juga dibuka di Medan Baru. Banyak para mahasiswa setiap sore kumpul di tempat itu. Disana ada meja/kursi rapat yang dapat menampung 20-30an orang dan ada lagi meja pimpong. Lewat tempat itu pula DPK-DPK yang ada di Medan dan DPC melakukan konsolidasi. Dan tak luput lagi kalau pada periode ini juga HIMAPSI mengadakan acara Hari Raya Agama berupa Perayaan Natal. Ini dilakukan oleh DPK-DPK. Begitu seringnya Perayaan natal ini dilakukan dan begitu besarnya biaya yang disedot, suatu ketika saya diundang dan diberi kesempatan menyampaikan sambutan, saya pernah menyisipkan semacam “sentilan” dalam sambutan saya, kalau HIMAPSI itu tidak ekivalen dengan Pemuda GKPS. Kalau Pemuda GKPS melakukan Perayaan Natal rutin itu karena memang itu “core bisnis”nya. HIMAPSI masih ada “core bisnis” nya yang belum terjamah, seperti penelitian. Penelitian itu penting bagi mahasiswa dalam penyusunan skripsinya. Andai itu disinkronkan dengan penelitian yang berguna bagi masyarakat dan Pemerintah, bukahkah itu lebih penting dan sesuatu yang luar biasa. Dalam pertemuan saya dengan para Pengurus DPK dan DPC hal ini sering saya ingatkan. Sebab salah satu Tri Tugas HIMAPSI itu, adalah ilmu pengetahuan, yang nota bene didalamnya penelitian. Nafas dan nama organisasi juga bisa semakin jelas dengan penelitian. Dan saying sampai diakhir periode saya hal ini tak kunjung tuntas.
Masapun berlalu digelar lagi MUBES III di Pematang Siantar tepatnya di Aula Rajamin Purba. Pada kesempatan inilah tongkat kepemimpinan HIMAPSI beralih kepada sdr Fulmandasa Sinaga. (Penulis adalah mantan Ketua Umum Himapsi)






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar